Nuning Sapta Rahayu
(Terbaik 1 Sayembara Menulis di Lembur Aksara Sumedang)
Dari ruang kelas khusus hingga kelas bahasa Inggris untuk anak berkebutuhan khusus, dari keyakinan, empati, teknologi, hingga inovasi kecil yang lahir setiap hari, saya belajar bahwa kekuatan seorang guru bukan terletak pada panggung, tetapi pada kesetiaannya.
Dan mungkin, dari perjalanan panjang inilah saya akhirnya memahami makna dari kalimat yang sering kita dengar: Guru Hebat, Indonesia Kuat.
Awal Perjalanan: Ketika Panggilan Itu Menemukan Jalannya
Saya tidak pernah membayangkan bahwa langkah kecil memasuki sekolah pendidikan khusus dua dekade lalu akan mengubah seluruh arah hidup.
Hari pertama, saya disambut tatapan polos seorang anak yang tidak mampu berbicara, tetapi seolah memahami kehadiran saya. Dari situlah saya sadar: profesi ini bukan hanya pekerjaan; ini panggilan jiwa.
Setiap anak datang dengan cerita berbeda. Ada yang membawa tantangan sensorik, ada yang bergulat dengan hambatan motorik, ada yang hidup dalam dunia sunyinya sendiri. Namun ada juga anak yang selalu menghadirkan keceriaan dan optimisme, bahkan di tengah segala keterbatasan yang dimilikinya.
Mereka juga membawa secercah harapan yang, entah bagaimana, membuat saya termotivasi untuk terus berinovasi dan belajar.
Peran Ganda: Menjadi Guru Bahasa Inggris untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Selama hampir 20 tahun saya menjadi guru kelas bagi Anak Berkebutuhan Khusus dengan Spektrum Autisme. Namun di balik itu saya berinisiatif menjalani tugas bayangan.
Mengabdikan diri mengajar bahasa Inggris bagi ABK dengan semua hambatan, walaupun itu tak terdata di dapodik, SK PBM ataupun mendapatkan insentif tambahan. Semua murni dari rasa tanggung jawab dan kepedulian.
Mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa ABK adalah perjalanan tersendiri. Bukan sekadar menghafal vocabulary, tetapi bagaimana menyampaikan setiap materi dan kata dengan kesabaran dan upaya yang luar biasa.
Saya harus menyesuaikan metode dan media sesuai kebutuhan: kartu visual, gerakan tubuh, lagu, hingga permainan sederhana.
Saya masih ingat seorang murid non-verbal yang perlahan mulai merespon ketika saya menyebut “apple.” Ia tidak mengucapkannya, tetapi senyumnya cukup mengatakan segalanya.
Ada pula siswa yang dulu tidak berani menatap mata, kini dengan percaya diri mempraktikkan simple sentences di depan kelas.
Mereka tidak hanya belajar bahasa Inggris. Mereka belajar percaya diri. Dan saya? Saya belajar menjadi seorang pendidik yang lebih sabar dan penuh empati.
Inovasi demi Inovasi: Lahirnya “Tech with Heart”
Dinamika siswa ABK menuntut guru untuk terus berkembang. Dari metode visual tradisional hingga penggunaan perangkat digital sederhana, saya merasakan bahwa inovasi harus lahir dari cinta, bukan sekadar mengikuti tren.
Dari situlah lahir konsep “Tech with Heart”, Humanizing Education Through Assistive and Responsive Technology. Sebuah gagasan bahwa alat bantu pembelajaran harus dibangun dengan logika teknologi, namun digerakkan oleh empati.
Tiga inovasi yang lahir dari prinsip ini; Vista Mini Board, Bilingual AR Book, dan media SAVe, kini menjadi bagian penting dalam keseharian siswa-siswa saya.
Pertama, Vista Mini Board (Visual Interactive Schedule and Task Assistant) merupakan sebuah inovasi saya dalam mengajarkan rutinitas dan transisi bagi siswa dengan autisme.
Siswa autis sering membutuhkan struktur visual untuk memahami urutan kegiatan, meredakan kecemasan, dan meningkatkan kemandirian. Selain sebagai jadwal visual interaktif, media ini menjadi alat bantu komunikasi alternatif augmentatif bagi murid autis dengan kebutuhan komunikasi kompleks.
Dampaknya, murid jadi lebih tenang karena tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya, mengurangi intensitas tantrum, dan meningkatkan kemampuan mengikuti rutinitas tanpa harus terus diarahkan secara verbal.
Kedua, ada Bilingual AR Book, Buku bilingual terintegrasi Teknologi AR dan Video bahasa isyarat bagi siswa tunarungu.
Saya ingin anak-anak ABK merasakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan imersif, serta memudahkan mereka dalam memahami kata dan frasa sederhana diantaranya melalui pendekatan bilingual terintegrasi teknologi augmented reality.
Dampaknya, siswa lebih fokus karena bentuk pembelajaran multisensori, vocabulary lebih cepat mudah dipahami serta antusias siswa dalam mengikuti kegiatan belajar meningkat signifikan.
Ketiga, saya mencoba berinovasi dengan membuat media SAVe (Sustainable Audio Vocabulary for enrichment) bagi siswa tunanetra.
Inovasi ini berangkat dari kebutuhan sederhana: kesulitan siswa tunanetra dalam membedakan spelling dan pronunciation serta bagaimana agar mereka bisa mempelajari vocabulary kapan pun tanpa bergantung pada guru.
SAVe adalah kumpulan audio vocabulary yang dirancang berkelanjutan, sederhana, dan dapat dibuka tanpa internet. Dengan menekan tombol play, siswa dapat mendengar kosakata audio lengkap yang terdiri atas pronunciation, spelling, meaning, dan example serta mendengarkannya secara berulang.
Dampaknya, penguatan vocabulary dapat dilakukan kapan saja, meningkatkan percaya diri dan hasil belajar dengan lebih konsisten.
Inovasi ini membawa semangat baru. Anak-anak lebih termotivasi, pembelajaran menjadi lebih interaktif, dan orang tua mulai melihat perubahan nyata pada putra-putrinya.
Tantangan-Tantangan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Setiap hari adalah cerita baru. Ada tawa, ada tangis, ada kemajuan, ada juga kisah haru.
Ada hari ketika kelas berjalan mulus, ada juga hari ketika satu-satunya keberhasilan adalah membuat anak mau duduk selama lima menit. Tetapi dalam pendidikan khusus, lima menit adalah sebuah kemenangan besar.
Kerjasama dengan orang tua pun tak selalu mudah. Beberapa masih bergulat dengan rasa denial, beberapa khawatir berlebihan, beberapa tidak tahu harus mulai dari mana.
Peran saya bukan hanya mengajar, tetapi menjadi sahabat bagi orang tua. Mendengarkan dengan penuh empati dan menjadi jembatan; antara harapan dan kenyataan, antara mimpi dan keterbatasan.
Setiap tantangan selalu membawa ruang belajar bagi saya. Justru dari titik-titik itulah ketangguhan guru tumbuh.
Momen-Momen Kecil yang Menjadi Cahaya
Cerita pengabdian saya bukan tentang penghargaan atau sorotan kamera. Ini tentang momen-momen kecil yang sering terlewat, tetapi mengendap di hati.
Senyum malu-malu anak yang biasanya menolak kontak mata. Bisikan, “Miss, I can,” dari siswa yang dulu selalu berkata “Saya tidak bisa”.
Pelukan spontan dari anak yang hari-harinya penuh kecemasan. Serta orang tua yang menangis bahagia karena anaknya akhirnya bisa membaca satu kalimat pendek.
Di sinilah letak “tugas bayangan” itu, pekerjaan yang tidak viral, tetapi nyata. Pekerjaan yang tidak sering diumumkan, tetapi memberikan makna dan dampak nyata.
Dampak yang Mungkin Tak Terlihat, tetapi Menggema Jauh
Saya melihat siswa-siswa saya tumbuh menjadi anak-anak yang lebih mandiri. Ada yang kini berani berinteraksi, ada yang bisa membaca, ada yang memahami instruksi sederhana, ada yang menemukan ekspresi diri melalui seni.
Saya juga melihat bagaimana kehadiran seorang guru yang konsisten mampu mengurangi kecemasan orang tua, memperkuat motivasi anak, dan menciptakan ruang belajar yang penuh kehangatan.
Saya tidak pernah tahu sejauh apa pengaruh itu akan meluas. Yang saya tahu, setiap langkah kecil mereka adalah bukti bahwa kerja diam-diam ini tidak sia-sia.
Refleksi Dua Dekade: Cinta yang Membuat Saya Bertahan
Mengabdi selama 20 tahun dengan ragam tantangan mungkin bukan perkara mudah. Namun dukungan suami, anak, keluarga, rekan, dan tentu saja siswa-siswa saya yang istimewa membuat semua perjalanan menjadi berarti.
Saya belajar bahwa menjadi guru pendidikan khusus adalah perjalanan spiritual. Ada haru, ada letih, tetapi selalu ada cinta.
Dalam sunyi ruang kelas, saya sering mengulang kalimat sederhana ini:
“Guru Hebat, Indonesia Kuat.”
Dan saya percaya, kekuatan itu lahir dari ketulusan guru-guru yang bekerja dalam diam.
Dari Tugas Bayangan ke Cahaya
Ketika menengok kembali dua dekade perjalanan ini, saya sadar bahwa tugas-tugas kecil yang dulu saya anggap sederhana ternyata menjadi cahaya bagi banyak anak. Cahaya yang menerangi langkah pertama mereka menuju kemandirian, keberanian, dan masa depan yang lebih baik.
Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di tahun-tahun berikutnya, tetapi satu hal pasti: selama hati saya masih bergetar melihat senyum seorang anak ABK, selama itu pula saya akan terus berjalan; mengajar, belajar, dan mengabdi.
Karena pada hakikatnya, perjalanan seorang guru bukan untuk dilihat, tetapi untuk dirasakan. Dan dalam setiap langkah itu, saya menemukan bahagia.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Dari Tugas Bayangan ke Cahaya: `Dua Dekade Menjadi Guru ABK", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/nuningsapta1219/691b1a4fc925c4299b098a82/dari-tugas-bayangan-ke-cahaya-dua-dekade-menjadi-guru-abk
Kreator: Nuning Sapta Rahayu







0 komentar:
Posting Komentar