Vidya berasal dari bahasa sansekerta yang artinya ilmu pengetahuan, sedangkan Caryena artinya perilaku atau tindakan. Kalau gabungan vidya caryena memiliki arti ilmu yang diwujudkan melalui tindakan. Vidya Caryena menjadi agenda dua tahunan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang. Pada tahun 2026 telah berlangsung sebanyak tiga kali. Dalam konteks agenda dua tahunan, Vidya Caryena menjadi ajang penghargaan bagi insan pendidikan di Kabupaten Sumedang. Penghargaan diberikan kepada guru, murid, tenaga kependidikan, dan tokoh masyarakat.
Ajang penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi Dinas Pendidikan untuk memantik semangat semua insan pendidikan agar terus berinovasi, mengabdi dan bergerak secara serempak untuk pendidikan yang berdampak bagi Sumedang. Bertempat di gedung Tampomas Pusat Pemerintahan Kabupaten Sumedang, Vidya Caryena III mengundang 20 nominator penerima penghargaan. Penentuan nominasi award Vidya Caryena III berdasarkan hasil berbagai ajang perlombaan dan penilaian Dinas Pendidikan sesuai kriteria yang telah ditentukan yaitu inovatif, transformatif dan dedikatif.
Dengan mengusung tema “Sekolah Ramah Lingkungan Untuk Sumedang Simpati Menuju Indonesia Emas 2045”, Vidya Caryena III mengundang 300 lebih peserta dari kalangan guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah. Selain itu, kegiatannya menyajikan talkshow dan workshop yang menggugah para peserta mengenai perubahan mindset terhadap murid. pembicara yang hadir pada acara talkshow menampilkan Shahnaz Haque dan Pandawara group.
Selain itu, Dinas Pendidikan menggandeng Penerbit Erlangga untuk menerbitkan buku kokurikuler Sekolah Ramah Lingkungan (SRL) yang ditulis oleh guru, kepala sekolah dan pengawas. Pada kesempatan Vidya Caryena III, buku kokurikuler SRL kelas 1, 4 dan 7 resmi diluncurkan dan diperkenalkan kepada para peserta yang hadir. Buku ini menjadi pegangan guru dan murid dalam melaksanakan pembelajaran kokurikuler yang mulai dilaksanakan pada tahun ajaran 2026/2027. Didalam buku SRL terdapat 6 bab, yaitu kebersihan diri, kebersihan lingkungan sekitar, sampah, penghijauan, makanan sehat dan mitigasi bencana. Berbagai aktivitas siswa disajikan dalam buku tersebut yang membuat pembelajaran kokurikuler tidak membosankan. Selain itu terdapat juga asesmen formatif setiap pertemuannya yang dapat melihat perkembangan murid dalam melaksanakan aktivitas.
Seperti mbak Shahnaz Haque jelaskan, jika kita kalah modal, maka harus menang konsisten. ya, konsisten menjadi modal yang sangat murah dan harus dilatihkan meskipun pada hal yang menurut kita sepele. seperti melaksanakan pembiasaan 8 M. Hal ini mudah-mudahan menjadi personal branding dan membudaya. Kalau bukan kita yang peduli terhadap lingkungan sendiri, mau siapa lagi.
Mari jadikan tiap sekolah menjadi sekolah yang ramah lingkungan.








